Namun, di tengah padatnya tugas perkuliahan, deadline, organisasi, maupun berbagai aktivitas lainnya, tanpa disadari kita justru lupa menyempatkan diri untuk meluangkan waktu bersama Al-Qur'an. Bukan karena kita tidak mencintainya, tetapi karena sering kali kita merasa harus menyelesaikan semua urusan terlebih dahulu, kemudian baru akan membacanya ketika memiliki waktu luang.
Ironisnya, sebagai mahasiswa yang setiap hari mempelajari Al-Qur'an, terkadang kita lebih sering membuka modul, jurnal, atau media sosial daripada membuka mushaf. Kita begitu akrab dengan teori-teori tentang Al-Qur'an, tetapi tanpa sadar mulai jarang meluangkan waktu untuk sekadar membaca dan menikmati ayat-ayat-Nya. Jangan sampai Al-Qur'an hanya menjadi bahan presentasi, bahan ujian, atau bahan diskusi di ruang kelas, tetapi semakin jarang menjadi teman yang kita baca dalam keseharian.
Padahal, mungkin yang perlu kita ubah bukanlah menunggu waktu luang, melainkan meluangkan waktu. Pada dasarnya, setiap orang sama-sama diberikan waktu dua puluh empat jam dalam sehari. Perbedaannya terletak pada bagaimana kita mengelola dan memanfaatkan waktu tersebut. Mungkin yang kita butuhkan bukan tambahan waktu, melainkan tambahan kesadaran bahwa Al-Qur'an juga memiliki hak untuk kita luangkan waktu di tengah kesibukan kita. Jika kita mampu menyediakan waktu untuk berbagai aktivitas lainnya, tentu kita juga dapat berusaha menyisihkan beberapa menit untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an, meskipun hanya membaca satu ayat. Sebab, menjaga hubungan dengan Al-Qur'an tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang kita baca dalam satu waktu, tetapi juga dari sejauh mana kita mampu menjaga konsistensi untuk selalu dekat dengannya.
Di sisi lain, ada satu dawuh Ibu Nyai Hj. Nur Hannah Zamzami yang menurut saya sangat relevan dengan hal ini. Beliau menyampaikan bahwa menjadi Ahlul Qur'an tidak semata-mata diukur dari banyaknya hafalan yang dimiliki. Lebih dari itu, Ahlul Qur'an adalah mereka yang senantiasa mencintai Al-Qur'an, mengistiqamahkan bacaannya, berusaha memahami maknanya, serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Dawuh tersebut menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan Al-Qur'an bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita hafal, tetapi juga tentang seberapa erat hubungan kita dengannya.
Sebagai mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk mempelajari Al-Qur'an, tetapi lupa meluangkan waktu untuk membacanya. Semoga ilmu yang kita pelajari tidak hanya berhenti di ruang kelas atau lembaran tugas, melainkan juga mampu membawa kita semakin dekat dengan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Sebab, menjadi dekat dengan Al-Qur'an tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Terkadang, satu ayat yang dibaca dengan penuh kesadaran setiap hari dapat menjadi awal tumbuhnya cinta kepada Kalamullah. Semoga dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, Allah menumbuhkan kecintaan kita kepada Al-Qur'an dan menjadikan kita termasuk golongan Ahlul Qur'an.
0 Komentar