Mengenal lebih dekat mufasir Aishah ‘Abd al-Rahman
(Ona Devita Reni Andari)
‘Abd Al Rahman yang dikenal dengan nama Bint Al Shati adalah wanita pertama yang menjadi mufassir di sejarah Islam. Tanpa harus mengesampingkan tugas-tugas utama sebagai wanita shalihah sebagaimana yang disyariatkan Islam, Bint Al Shati’ memberikan keteladanan yang agung dalam pengembangan disiplin ilmu khususnya ilmu-ilmu Al-Qur’an yang menjadi dasar utama dalam melaksanakan syariat. Sehingga dengan sendirinya, ia telah menjauhkan anggapan buruk terhadap sikap diskriminatif yang dilakukan Islam terhadap wanita. Ia justru membuktikan bahwasannya wanita juga berhak mengungkapkan gagasan-gagasan yang dimilikinya, terutama hal-hal yang berhubungan dengan disiplin keilmuan dan pengembangan diri dalam hal tersebut.
Prof. Dr. ‘Abd Al Rahman adalah salah satu tokoh dalam bidang tafsir Qur’an dan Sastra. Ia dilahirkan di kota Dimyat, dimana sebuah kota di pelabuhan Delta di Sungai Nil Mesir pada tanggal 6 November 1993 bertepatan dengan 6 Dzulhijah 1331 H. Dimana pasangan Shaikh Muhammad Ali Abd al Rahman dan Faridah Abd’dari keluarga yang agamis, mapan, dan berpendidikan. Bint al-Shāṭi’ memulai pendidikannya pada tahun 1918, dan ketika itu dia berumur 5 tahun. Meskipun ia tidak menikmati masa kanak-kanaknya sebagaimana anak-anak kecil yang lain karena sang ayah selalu mengasuhnya di dalam kamar rumahnya, namun sejak dini ia telah dididik serta dipersiapkan untuk menjadi seorang ulama Islam. Keluarganya selalu menekankan untuk senantiasa memperdalam khazanah pemikiran Islam. Hafalan al-Qur’an telah menjadi hidangan setiap harinya. Sehingga di usianya yang masih sangat belia, Bint al-Shāṭi’ telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an.
Karya Bint al Shati sangat banyak, seluruh karya yang diciptakannya menjadi saksi kehebatannya. Ada sekitar 40 judul buku dalam bidang Dirasah Islamiyah, Fiqh, Tafsir, Adab, dan lainnya telah terbit di Mesir dan beberapa negara Arab. Diantara karya-karyanya yang berbetuk non fiksi adalah Al Ghufran li Abi al Ala Al Ma’arri, Qira’ah Jadilah fi Risalat al Ghufran, Lughatuna wa al Hayah, dan lain sebagainya. Sedangkan karyanya yang berbentuk fiksi adalah Fi al Imtihan Sirr Shati, Birrul Bik Bainal Fann Wal Hayyah dan lain sebagainya. Bint Al Shati sangat terpengaruh gaya sang guru sekaligus pendamping hidupnya, Amin al Khuli. Berikut prinsip-prinsip metodologisnya dalam menafsirkan Al-Qur’an:
1. prinsip sebagian ayat Al-Qur’an menafsirkan sebagian ayat yang lain.
2. prinsip munasabah. Yakni mengaitkan ayat atau kata dengan ayat atau kata didekatnya.
3. Prinsip al ibrah bi umum al lafz bi khusus al sabah.
4. prinsip bahwa setiap kata bahasa Arab al Qur’an tidak mengandung sinonimitas. Satu kata memiliki satu makna.
Melihat sejarah perjalanan hidupnya, Bint al Shati mampu mendobrak historis kebebasana wanita pada zamannya dalam meraih pendidikan keilmuan. Tradisi masyarakat yang saat itu menganggap tabu wanita untuk bekerja dan berkarya, dibantahnya dengan membuktikan bahwasannya wanita sejajar dengan laki-laki dalam hal pendidikan keilmuan, bahkan wanita juga layak dikenal oleh khalayak umum untuk ikut keberadaanya didunia ini. Adapun dalam menafsirkan Al Qur’an, Bint al Shati memberikan pelajaran bahwasannya proses pengembangan disiplin ilmu yang bersumber utama dari yang berbeda-beda, sesuai kecenderungan yang dimiliki oleh masing-maisng ilmuan dalam menekuni studinya.
Keteladanan-keteladanan ini diharapkan mampu dilanjutkan dan dikembangkan oleh generasi-generasi Bint Al Shati setelahnya, terutama bagi para wanita. Sehingga isu pengangkatan derajat wanita dapat diperjuangkan.
Referensi
Fatimah Binti Thohari,” ‘Aishah ‘Abd al Rahman bint al-Shati’: Mufasir Wanita Zaman Kontemporer, Volume 1, No.1, Januari- Juni 2016 ISSN: 2541-1667(P)2541-1675(E)
0 Komentar