Akhirnya Aku Mengerti


Akhirnya Aku Mengerti

Diana Shinta

Aku mengetik tulisan ini sejak kepergian Ibu tujuh hari yang lalu masih sangat membekas dengan tajam di kepalaku hingga menyayat dan menyisihkan luka di hati. Caranya menasehati anak-anaknya ketika mulai beranjak dewasa, selalu menyelipkan pesan yang tak akan pernah kulupakan hingga aku beranak lima nanti. 

Grobogan, awal bulan Juli 2021, entah sekarang tanggal berapa bahkan hari inipun aku lupa hari apa. Ya gini kalau kuliah libur sudah tak ingat hari, semua terasa seperti hari Minggu. Mari, mengobrol denganku. Namaku Nuriyah, mungkin usiaku sudah hampir seperempat abad dan alhamdulilah, aku masih bisa bernafas dengan gratis di dunia ini berkat Sang Illahi yang masih sayang kepadaku. 

Sambil kubaca-baca buku diaryku sejak usia remaja dulu, aku selalu mengoleksi buku berwana-warni; hijau, merah, kuning koleksi buku diary yang masih tertata rapi di bilik tengah, di atas meja pojok berwarna coklat tua itu. Banyak memang kenangan yang tertulis di dalamnya, mengisahkan ribuan kata di setiap cerita dalam lembaran diaryku. 

Kini, semua usang hanya tinggal kenangan dalam cerita sepuluh tahun yang lalu. Tak ada lagi yang menata dan merapikan buku, membersihkan debu bahkan memasak enak untukku lagi. Aku termenung, di atas kasur empuk berbalut sprei bunga mawar merah  kesukaan Ibuku. Ku buka setiap lembaran, kubaca kata demi kata hingga aku terpana membaca salah satu kisah perjuangan Ibu.

 Teringat jelas dan nyata sosok kerja keras Ibu menyekolahkanku, air matakupun langsung menetes berjatuhan, seakan tau apa yang aku rasakan saat ini. Masih kupegang salah satu diary berwarna hijau favoritku ini. Semua tak lagi sama, hidup di dunia ini memang bergantian, semua ada masanya. Tinggal kita menunggu kapan giliran kita nanti dijemput malaikat maut yang menakutkan itu.

Begitupun dengan kepergian Ibu yang pergi jauh dan tak akan pernah datang kembali menemuiku. Sembari mengingat-ingat pesan yang selalu diucapkannya di setiap aku pamit pergi memburu ilmu di salah satu pesantren tepatnya di Salatiga, kota kecil yang serba ada. Beruntungnya aku berada di kota ini, udaranya sejuk tidak seperti Grobogan, kotaku yang panasnya bukan main. 

“Nduk, dadi wong iku kudu pinter ngaji, nak awaedewe ngejar akhirat dunyo kuwi bakalan katut tapi, nak awaedwe onone mung mikirne dunyo yowes bakal ciloko. Ngaji iku kan go sangune mati mangka urip iku kudu pinter ngaji ojo dadi manungso sing rugi. Nuriyah ngajine sing tenanan kalih sekolahe sing pinter nggih, ben sok urip e ora ciloko. (Nduk, jadi orang itu harus pandai ngaji, kalau kita mengejar akhirat dunia pasti mengikuti dengan sendirinya tapi, kalau kita hanya mengejar dunia saja maka, hidup kita akan celaka. Ngaji itu untuk bekal di akhirat jadi, harus pandai ngaji jangan jadi manusia yang rugi. Nuriyah ngaji yang sngguh-sunnguh dan sekolah yang pandai ya, supaya hidupnya nanti tidak celaka). Begitulah pesan almarhumah Ibu yang selalu kujadikan prinsip di setiap perjalanan hidupku. 

Tiba-tiba terdengar suara tangisan salah satu anak remaja tepat di depan halaman rumahku, suaranya terisak-isak kesakitan bak seperti seorang Ibu yang kesakitan saat bertaruh nyawa melahirkan anaknya. Suara itu semakin keras, dan membuatku penasaran. Kututup buku diaryku langsung kubergegas menuju arah suara itu, dan ternyata tak lain adalah anak perempuan tetanggaku dengan segerombolan remaja, pasalnya habis pawai lulusan, terlihat baju seragam SMA (Sekolah Menengah Atas) anak-anak itu yang tercorat-coret warna pilok dan berbalut tanda tangan sana-sini. Ramai warga mendatangi, karena tangisannya yang menggelegar. 

 “Kenapa ini?, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Rika menangis sekeras ini?.” tanya Pak RT sambil lari terbirit-birit menuju arah halaman rumahku. 

Memanglah rumah Pak RT begitu dekat dengan rumah Rika, tak heran jika tangisannya terdengar dari sana.

“Itu Pak, tadi dua sahabat Rika (Tino dan Sukma) yang turut ikut dalam pawai kelulusan tersebut meninggal di tempat akibat kecelakaan pasalnya tertabrak truk yang melintas di jalan raya arah menuju rumah Rika. Tak disangka tak diduga padahal mereka saling mencintai dan setelah SMA sudah merencanakan untuk menikah.” sahut salah satu teman perempuan Rika dari arah belakang.

Apalah daya, maut sudah menjemputnya lebih dulu. gumamku dalam hati sembari mencoba menenangkan Mbak Rika yang masih syok atas kejadian yang menimpa sahabatnya itu.

Pak RT pun malah langsung menggerutu mendengar pernyataan teman Rika tersebut, Masa depan bangsa bergantung pada kualitas generasi mudanya, semakin berkualitas maka akan semakin siap untuk menghadapi tantangan dan rintangan kedepan. Jadilah generasi yang berperan bukan malah baperang, pawai boncengan sana-sini, apa itu generasi yang mencerminkan “Agent Of Change” yang sebenarnya?. Sudah-sudah bubar saja, jangan diulangi lagi sudah tau kan akibatnyakan!.

Generasi milenial yang disebut sebagai agent of change adalah fakta bahwa generasi milenial  mempunyai pemikiran yang tajam, kritis, dan kreatif. Mereka dinilai sebagai generasi yang berpendidikan cukup tinggi sehingga memiliki tanggung jawab untuk memegang peranan penting sebagai kaum intelektual dalam menanggapi fenomena yang ada di masyarakat. Selain itu generasi milenial juga merupakan generasi modern yang memiliki rasa optimis, aktif bekerja, kemauan untuk kompetitif, berpikir inovatif tentang organisasi, fleksibel dan terbuka.

***

Tangisannya semakin menjadi-jadi. 

Ibunyapun menyuruh Rika untuk masuk ke rumah, ditambah lagi sambil marah-marah, Kamu itu anak perempuan ngapain ikut kayak gitu Rik, untung saja kamu masih selamat, tidak ada gunanya pawai seperti itu, ini lagi (sambil memegang baju seragam Rika) seragam dicorat-coret kayak gini, ini juga pakai uang nduk belinya, astaghfirullah hal’adzim…”

Rika menjawab sambil tersedu-sedu dengan nada tinggi, ini kan untuk kenangan buk, kita kan anak muda apa salahnya! kan seragam ini juga udah nggak kepakai to!.

“Dadi anak kok nglawan wong tuo, nak dikandani malah bantah! (Jadi anak kok melawan orang tua, kalau dinasehati malah berani) sambil mengelus dadanya dan merasa kecewa karena telah  gagal dalam mendidik anak perempuannya itu. 

Rika adalah anak perempuan Bu Darmi satu-satunya, dia menjadi kembang desa di Desa Njaraan ini. Tapi, untuk apa cantik kalau selalu saja mengecewakan hati orang tua.

“Ibuk kan nggak mengizinkan kamu untuk ikut pawai to nduk, kenapa masih ikut juga gini kan akhirnya. Seharusnya dulu, kamu mondok Rik. Nggak bakal kayak ginikan. Aurot nggak ditutup diumbar sana-sini, apa nggak malu. Berapa kali Ibu menyuruhmu pakai jilbab, bukan malah kluyuran dengan laki-laki yang bukan mahrommu!!!.”

***

 “Sampun buk sampun, mbotensah didukani kersane Mbak Rika tenang rien”. (“sudah buk sudah, tidak usah dimarahi supaya Mbak Rika tenang dulu), kataku sambil mengetengahi keadaan yang semakin panas itu. Memang benar, pesan Ibuku semasa hidupnya duluAnak itu asset bagi kedua orang tuanya, apalagi anak perempuan yang seharusnya berada dalam rumah yang tugasnya belajar dan ngaji, berkepribadian anggun bertutur kata sopan santun dan tidak asal bergaul dengan teman yang dirasa malah menjadikan dirinya buruk. 

***

Apalagi generasi muda di era milenial ini, banyak yang tidak mengedepankan adab bahkan dalam prakteknyapun seperti tak berilmu padahal, mengenyam pendidikan pada taraf yang cukup tinggi. Bagaimana generasi bangsa kita nantinya, kalau agen perubahan saja tidak mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang sesungguhnya!

Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi seakan tidak dapat terpisah dengan kehidupan manusia. Kemajuan teknologi memberikan dampak dan perubahan yang begitu besar pada gaya hidup dan pola pikir masyarakat di berbagai bidang. Selain itu, nilai-nilai kebudayaan di masyarakat mengalami penurunan yang begitu drastis perubahan seiring berkembangnya teknologi yang ada. Akhlakul karimah yang seharusnya dijunjung tinggi anak muda tapi realitanya malah sudah semakin pudar, berbicara dengan orang tuanya sendiri saja tidak mencerminkan sikap orang Indonesia yang ramah, sopansantun yang selalu menjadi karakter bangsa sekarang sudah terkikis oleh zaman.

Ternyata, sekarang aku tau kenapa almarhumah Ibu selalu menitipkan pesan itu ketika aku pamit pergi. Terimakasih Bu, nasehatmu sungguh berguna bagiku walaupun Ibu sudah  tenang di surga-Nya. 

Diana Shinta adalah nama penanya. Gadis yang kini menginjak usia 20 tahun ini, sudah tertarik dengan dunia jurnalistik sejak kecil. Apalagi kalau soal menulis diary, itu sudah menjadi santapannya sehari-hari. Gadis yang menyukai warna hijau ini turut aktif dalam pembuatan majalah kampus dan selalu terlihat produktif menulis di blog pribadinya. 

 

Posting Komentar

0 Komentar