Surat Cinta Untuk Rasulullah
Ona Devita Reni Andari
To The Prophet Muhammad SAW
Assalamu’alaika ya Rasulullah,…
Engkau cahaya diatas cahaya yang membawa manusia dari zaman imperium jahiliah ke zaman imperium isyriah.
Betapa rindu hatiku yang ingin bertemu dengan engkau ya rasulullah. Sang Revolusioner Nabi Agung Muhammad SAW. seorang kekasih Allah yang menjadi uswatun khasanah untuk umat nya.
Engkau selalu memikirnya umatmu walau belum pernah Allah berikan temu.
Tiada hari tanpa ku bersholawat untukmu dengan harap syafa’at diakhirat nanti. Betapa indah wajah tampanmu,
Betapa indah akhlakmu,
Betapa indah hatimu, Sehingga ku relakan airmata ini untukmu.
Membayangkan engkau yang hidup pada zaman dulu dengan segala kesederhanaan. Dalam tersenyum engkau berikan pada siapa saja, tak pernah tertawa terbahak, dalam berjalan engkau hanya melihat arah jalan itu, dan dalam makan engkau hanya meggunakan tiga jari.
Banyak sekali perilaku perilaku mulia yang kau contohnya untuk umatmu.
Aku belajar dari kisah- kisahmu
Bukti cintaku yang abadi untukmu,
Cinta Rasulullah kepada Keluarganya….Ummul Mukminin, Aisyah r.a menuturkan “ Tidak pernah aku melihat seorang pun yang paling mirip keadaanya dengan Rasulullah dalam cara berdiri, dan cara duduknya seperti Fatimah, putri beliau. Bila ia datang, Rasulullah segera berdiri menyambutnya, menciumnya, dan mendudukkannya di tempat duduknya.”
Begitu sering Rasulullah Saw. mencium Fatimah sehingga Aisyah r.a pernah menegurnya. Namun, Rasulullah yang mulia menjawab, Wahai Aisyah, kalau aku merindukan syurga, aku akan mencium Fatimah.” Bahkan Rasulullah mengungkapkan kecintaanya kepada putrinya hadapan para sahabatnya. Beliau sering berujar, “ Sesungguhnya Fatimah adalah belahan jiwaku. Siapapun menyakitinya, berarti ia menyakitiku. Siapapun membuatnya marah, berarti ia membuatku marah.”
Rasulullah juga sangat mencintai cucu kesayangan, Al Hasan dan Al Husain. Ibn Abbas r.a bercerita, “ Suatu hari, ketika kami berkumpul bersama Rasulullah , Fatimah datang sambil menangis . Tentu saja, Rasulullah kaget dan bertanya, ‘Biarlah ayahmu ini menjadi tebusanmu, mengapa engkau menangis Putriku ?’ Fatimah menjawab, ‘Al Hasan dan Al Husain pergi keluar rumah dan aku tidak tau dimana mereka saat ini.’
Rasulullah berkata, ‘Jangan menangis, karena pencipta mereka lebih menyayangi mereka daripada engkau dan aku.’ Jibril pun turun dan berkata, ‘Wahai Muhammad, jangan berduka. Mereka ada di perkampungan Bani Najjar. Keduanya tertidur. Allah telah mengutus malaikat untuk menjaganya.’
Kemudian Rasulullah Saw. beserta beberapa sahabat berangkat menuju perkampungan Bani Najjar. Mereka mendapati keduanya tidur berpelukan dan malaikat menaungi mereka dengan kedua sayapnya. Rasulullah Saw. mengambil mereka dan memelukanya hingga mereka terbangun. Beliau meletakkan Al Hasan dibahu kanannya dan Al Husain dibahu kirinya. Abu Bakar yang melihatnya berkata, ‘Wahai Rasulullah, berikan salah seorang anak itu untuk kugendong.’ Rasulullah SAW menjawab, Alangkah indahnya kendaraan mereka dan alangkah indahnya para penunggangnya.’
Tiba di masjid, beliau berdiri dengan Al Hasan dan Al Husain masih berada di kedua bahunya. Kemudian beliau berkata, ‘ Wahai Muslim, maukah kutunjukkan kepada kalian orang yang palig baik, kakek, dan neneknya?’ Mereka menjawab, ‘Tentu saja, Wahai Rasulullah . ‘ Beliau bersabda, ‘Al Hasan dan Al Husain kakek mereka Rasulullah, penutup para rasul, dan nenek mereka Khadijah binti Khuwailid, penghuu wanita ahli surga.’
Suatu hari Al Hasan dan Al Husain melihat rombongan kafilah lewat dan mereka melihat seorang anak kecil diatas ekor unta. Mereka pun merengek kepada sang kakek, Rasulullah SAW,.agar bisa naik unta. Maka Rasulullah SAW. membungkuk menjadikan tubuh bagaikan unta dan menyuruh keduanya naik punggung. Kemudian, beliau merangkak keliling ruangan sehingga mereka tertawa-tawa senang. Kakek beliau mengatakan betapa bahagianya menjadi tunggangan anak-anak yang sangat dicintainya.
Di lain kesempatan, Rasulullah Saw. pernah memanjangkan sujud ketika shalat isya sehingga jama’ah menyangka beliau sedang menerima wahyu. Usai shalat, beliau menjelaskan, “ Tidak, bukan karena itu. Anakku menunggangi punggungku. Aku tidak ingin menyegerakan sujudku sebelum ia memenuhi hajatnya.”
Begitu luar biasa, begitu indah kisah dalam hidupmu ya Rasulullah….
Aku sangat mengagumi, mengidolakanmu, mencintaimu ya Rasulullah….
Perihal RINDU…
Saat ini aku sedang merindukan banyak,
Namun rinduku pada kekasih Nyalah,
Paling mengusik ruang kecil hati ini,
Biarlah ku menjadi pecandu rindu,
Karna ketenangan kudapat bila ungkapkan perihal rasa ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Rindu dari Umatmu……
Tengaran, 18 November 2020
0 Komentar